Pada Selasa siang di suatu kampus di Jatinangor… Delapan orang perempuan, berusia rata-rata 22 tahun, beranjak dari gedung dekanat Fakultas Sastra (FASA). Mereka telah menyelesaikan urusan pengisian KRS. Perempuan-perempuan itu terdiri dari Rosi, Garnis, Mira, Astri, Meidina, Frieza, Dwinar, dan Leny. Percakapan bermula dari seorang Rosi yang mengkritisi kostum Dwinar.
Rosi : Kenapa ya, Oci tuh kalau ngeliat Wina pake baju yang warnanya gak nyambung gitu suka seneng. Wina mah pantes aja bajunya kayak gitu teh. Kerudung hijau, baju putih, pink.
Dwinar : Iih, nyambung kali. Baju Wina ‘kan ada hijau-hijaunya dikit. Lagian, sekarang ‘kan lagi trennya, hijau sama pink. (pembelaan)
Setelah itu percakapan kedua ketika kami berdelapan sedang berjalan menuju sebuah kantin.
Rosi : Ih, Wina sepatunya lucu. Ada bolong kecil pas di ujung sepatunya.
Dwinar : Eh, tahu gak ini tuh biar gak bau jempol.
Leny : Lho, emang kaki yang bau cuma jempol doank ya?
Dwinar : ‘Kan di mana-mana juga yang paling banyak memproduksi ibu, haha… (pembelaan)
(Dwinar, Garnis, Rosi, dan Leny tertawa. Mira, Dina, Astri, dan Frieza berjalan di depan kami sehingga tidak mendengar percakapan kami)
Lalu percakapan ketiga ditujukan pada Meidina.
Rosi : Kalau lihat sepatu Dina teh inget apa ya? (sambil menunjuk sepatu Meidina)
Leny : Hijau toska.
Dwinar : Bukan, gak kayak gitu.
Leny : Oh iya, kayak lumut di dalam laut. (eh, emang di laut ada lumut?, pikirnya)
Garnis : He-eh, ya. (Garnis sambil tertawa terbahak-bahak, apanya yang lucu?)
Dwinar : Kayak tahi kuda tahu.
Leny : Gak ah, itu mah mirip sama warna kerudung Wina. (Rosi, Dwinar, dan Garnis tertawa)
(Kami diam sejenak, mencari jawaban yang tepat.)
Leny : Oh ya, mirip cingcau! (celetuknya)
Garnis, Dwinar, dan Rosi : OH, IYA! (Ditutup dengan tertawa berbarengan.)
ANALISIS
Percakapan yang dibangun oleh Rosi memancing berbagai pendapat yang secara tidak langsung menunjukkan pribadi setiap orang yang terlibat dalam percakapan. Rosi selalu memulai percakapan dengan melontarkan pertanyaan yang sepertinya tidak penting, tapi membuat topik yang dibicarakan menjadi menarik. Seperti menurut Keraf, sebuah gaya yang menarik dapat diukur melalui beberapa komponen berikut: variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup (vitalitas), dan penuh daya khayal.
Jika merunut dari antartokoh yang terlibat dalam percakapan, teori yang penuh daya khayal sekaligus menunjukkan gaya bahasa kiasan bagian persamaan (simile) terdapat pada kata-kata Dwinar dan Leny. Dapat dilihat kutipannya sebagai berikut.
Leny : Oh iya, kayak lumut di dalam laut. (eh, emang di laut ada lumut?, pikirnya) …
Dwinar : Kayak tahi kuda tahu. …
Leny : Oh ya, mirip cingcau!
Dapat dilihat pada percakapan di atas, keempat tokoh tersebut mencoba mencari perbandingan antara warna sepatu Meidina dengan lumut di dalam laut, tahi kuda, ataupun cingcau. Pada perkataan Leny terhadap Wina, Gak ah, itu mah mirip sama warna kerudung Wina, yang berarti mengejek. Maka, Leny tidak mematuhi aturan gaya bahasa bagian sopan-santun (Gorys Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa). Namun percakapan tersebut telah membuat variasi dan humor yang sehat karena membuat percakapan menjadi lebih menarik. Berikut kutipannya.
Dwinar : Kayak tahi kuda tahu.
Leny : Gak ah, itu mah mirip sama warna kerudung Wina. (Rosi, Dwinar, dan Garnis tertawa)
Ada tokoh yang perkataannya kadang-kadang membela diri karena menghindar dari kesalahannya dalam mengemukakan pendapat, dan yang merasa dirinya benar. Terlihat dari beberapa perkataannya berikut ini.
Dwinar : Iih, nyambung kali. Baju Wina ‘kan ada hijau-hijaunya dikit. Lagian, sekarang ‘kan lagi trennya, hijau sama pink. (kalimat pembelaan)
Dwinar : Eh, tahu gak ini tuh biar gak bau jempol. (merasa paling tahu)
Leny : Lho, emang kaki yang bau cuma jempol doank ya?
Dwinar : ‘Kan di mana-mana juga yang paling banyak memproduksi ibu, haha… (kalimat pembelaan)
Leny : Oh iya, kayak lumut di dalam laut. (eh, emang di laut ada lumut?, pikirnya) (merasa benar)
Dwinar : Kayak tahi kuda tahu. (merasa benar)
Pada kalimat, Iih, nyambung kali. Baju Wina ‘kan ada hijau-hijaunya dikit. Lagian, sekarang ‘kan lagi trennya, hijau sama pink. jelas sekali tokoh itu mencari alasan untuk menutupi kesengajaan menggunakan pakaian yang warnanya “tubrukan” tersebut. Lalu pembelaan juga ada pada kalimat, ‘Kan di mana-mana juga yang paling banyak memproduksi ibu, haha… padahal itu hanya spekulasi yang berupa candaan yang tokoh tersebut buat sendiri—di samping memang hanya seorang ibu yang bisa memproduksi. Faktanya, harus diadakan penelitian terlebih dahulu mengenai benar tidaknya pada ibu jari kaki terdapat kelenjar keringat terbanyak.
Lalu pernyataan yang merasa diri tokoh tersebut benar atau sok tahu, yaitu pada kalimat Eh, tahu gak ini tuh biar gak bau jempol.; Oh iya, kayak lumut di dalam laut. (eh, emang di laut ada lumut?, pikirnya); Kayak tahi kuda tahu. Jika dilihat dari faktanya, harus diadakan penelitian terlebih dahulu mengenai fakta ada tidaknya lumut di dalam laut. Yang terparah adalah kalimat Kayak tahi kuda tahu. Sudah salah, tokoh tersebut meyakinkan dengan kata tahu pula. Kata tahu di sini menunjukkan penekanan bahwa tokoh yang lain harus yakin bahwa hal itu benar. Perkataannya tersebut sama saja dengan menjatuhkan harga dirinya sendiri di hadapan tokoh-tokoh yang lain.
(kupersembahkan untuk Pa Hamid 8). halow bapa….!)