January 10th, 2009

Dan sungguh, akan Kami Isi neraka Jahannam banyak dari jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.

(QS. Al A’raf: 179)

Hanya teringat kisah enam, lima, dan empat tahun yang lalu…

June 10th, 2008

Waktu seakan mundur ke masa-masa itu, masa sok sibuk atau menyibukkan diri, atau memang benar-benar sibuk. Berkutat pada setiap mata pelajaran, terutama matematika. Di sana guru yang paling berjasa sehingga membuat saya kagum, mmm bukan, lebih tepatnya sangat ingin sejiwa dengan matematika ialah Bapak Muhaemin. Tegas, disiplin, galak, bahkan saya pernah menjadi sasaran empuk ‘ciwitan’-nya karena ketika ada tes dadakan, saya tidak hafal rumus logaritma atau semacam sin, cos, tan, dsb. Tapi ada kalanya dia membuat suasana yang tadinya tegang tiba-tiba melumer karena bahasa Sundanya yang berlogat Jawa dia tuangkan menjadi candaan, hahaha… Duh jadi makin kangen masa itu. Terima kasihku takpernah terukur karena jasanya. Yang paling saya ingat, yaitu ketika beliau memanggil satu per satu siswa untuk mengerjakan soal di papan tulis, Alhamdulillah saya selalu lolos dari hukuman karena kebetulan saya selalu dapat soal yang tidak begitu sulit, heheheh…. Aduuh, semakin taktertahankan rindunya masa itu, ketika enam tahun yang lalu…

Lalu, saya sangat apresiasi pada Bapak Mardi, seorang guru bahasa Indonesia, sekaligus menginspirasi saya untuk sedikit melirik bahasa Indonesia. Jujur, saya paling benci mata pelajaran membosankan itu, entah lah, males sekali rasanya berkutat dengan wacana. Ketika ada tes baca wacana dengan dihitung waktu pun, saya paling lambat menyelesaikan bacaan (^^)>. Tapi entah kenapa, sejak beliau yang mengajarnya, rasanya menyenangkan sekali. Ingin rasanya saya lebih mengenal mata pelajaran itu. Mungkin karena bawaan beliau ketika mengajar benar-benar riang, santai tapi serius, dan selalu membuat kalimat-kalimat dengan menggunakan objeknya yang ada di kelas. Dan isi kalimat demi kalimatnya tuh humoris sekali. Selain itu, beliau juga agamis sekali, selalu memberi pencerahan, sabar, tenang, dan jarang sekali marah. Bapak, terima kasihku yang takterhingga selalu tercurah…

Ada satu lagi guru yang takkalah menariknya dengan yang lain, yaitu Bapak Apep. Beliau adalah guru agama, tepatnya guru bahasa Arab. Saya paling ingat suaranya yang hampir mirip dengan squidward (ampun, pak 8p), tokoh kartun di Spongebob, tapi tentu saja tingkah lakunya jauh berbeda dengan tokoh tersebut. Beliau penyabar. Kalau marah, takpernah menunjukkannya kecuali diam seribu bahasa. Tapi bibirnya selalu tersenyum sehingga kadang-kadang saya dan teman-teman bingung, beliau teh sedang marah?? Khas Sundanya selalu terlontar seperti orang-orang tua yang selalu ‘mamatahan’ putra-putrinya. Kalau sedang bercanda, beliau takpernah tertawa, malah kami para siswanya yang terbahak-bahak. Ada satu kejadian yang membuat saya selalu tersenyum, yaitu kejadian ketika beliau memasuki kelas dan langsung berkata seperti ini, “Ayo, siapkan kertas satu lembar di atas meja.” Serentak kami sekelas merajuknya agar diberi kesempatan satu minggu untuk mempersiapkan diri menghadapi tes tersebut. Lalu saya dan Pipit, teman sebangku saya, membuka-buka materi yang kira-kira bakal diujiankan. Kami mendengar beliau tiba-tiba berbicara dengan volume pelan seperti ini, “Samarukna rek eta.” Sontak, saya dan Pipit pun terbahak-bahak mendengarnya. Habisnya nada dan gaya berbicaranya lucu sekali, taktahan untuk tidak tertawa mendengarnya, hahaha (piss, pa, piss). Ternyata beliau melihat saya dan pipit menghafal materi yang tidak akan beliau ujiankan… Bapak, bapak, jarang sekali saya bertemu guru seperti Bapak. Semoga kesabaran Bapak dibalas oleh-Nya…

300408__09.00

Diinginkan Suami dan Istri

June 10th, 2008

Pria cenderung menginginkan isteri yang “jempolan” di antara teman dan kenalan-kenalan mereka. Maksud istri yang “jempolan” di sini, yaitu yang mencintai rumah tangga dan dapat mengelolanya dengan baik; dapat mengadakan penyesuaian selanggeng mungkin terhadap pola-pola kehidupan mereka; dapat bertabiat adil, dan setia.

Sementara wanita menekankan pentingnya prestasi, kehalusan perasaan, cinta, dan adanya pemahaman dari suaminya.

(sumber Psikologi Orang Dewasa oleh Andi Mappiare)

Asa Teu Napak

June 6th, 2008

Ayeuna-ayeuna teh keur rieut ku pagawean ngudag waktu. Waktu teh asa lumpat gancang pisan, hampir-hampir teu ka udag, ngan maksakeun ngudag, hehehe…

Nya kitu, saking ngebutna ngudag waktu, sampeyan teh asa teu napak…

Hoyong buru-buru get out ti Jatinangor. Rarasaan teh asa atos jenuh…

Ieu ge nyempetkeun ka warnet heula, bakating ku hoyong curhat 8D

60608

Yang Layak Jadi Pelindung?

April 16th, 2008

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui. (Al Ankabut : 41)

Tapi ko saya masih sulit melakukannya ya??

Tokoh Iran

April 16th, 2008

Ahmadinejad.

Seorang presiden Iran yang dipilih atas dorongan rakyatnya sendiri. Bukan seorang yang berasal dari dunia politik ataupun militer, melainkan seorang akademisi kampus (dosen).

Ia adalah pemimpin yang santun, sikapnya sederhana, bersahaja, keyakinannya tinggi, beradab, tegas, dan konsisten dalam memperjuangkan citra umat Islam di dunia Internasional.

(referensi dari koran PR edisi 160408, penulisnya lupa (^^)>)

Percakapan Para Cw

March 2nd, 2008

Pada Selasa siang di suatu kampus di Jatinangor… Delapan orang perempuan, berusia rata-rata 22 tahun, beranjak dari gedung dekanat Fakultas Sastra (FASA). Mereka telah menyelesaikan urusan pengisian KRS. Perempuan-perempuan itu terdiri dari Rosi, Garnis, Mira, Astri, Meidina, Frieza, Dwinar, dan Leny. Percakapan bermula dari seorang Rosi yang mengkritisi kostum Dwinar.

Rosi : Kenapa ya, Oci tuh kalau ngeliat Wina pake baju yang warnanya gak nyambung gitu suka seneng. Wina mah pantes aja bajunya kayak gitu teh. Kerudung hijau, baju putih, pink.

Dwinar : Iih, nyambung kali. Baju Wina ‘kan ada hijau-hijaunya dikit. Lagian, sekarang ‘kan lagi trennya, hijau sama pink. (pembelaan)

Setelah itu percakapan kedua ketika kami berdelapan sedang berjalan menuju sebuah kantin.

Rosi : Ih, Wina sepatunya lucu. Ada bolong kecil pas di ujung sepatunya.

Dwinar : Eh, tahu gak ini tuh biar gak bau jempol.

Leny : Lho, emang kaki yang bau cuma jempol doank ya?

Dwinar : ‘Kan di mana-mana juga yang paling banyak memproduksi ibu, haha… (pembelaan)

(Dwinar, Garnis, Rosi, dan Leny tertawa. Mira, Dina, Astri, dan Frieza berjalan di depan kami sehingga tidak mendengar percakapan kami)

Lalu percakapan ketiga ditujukan pada Meidina.

Rosi : Kalau lihat sepatu Dina teh inget apa ya? (sambil menunjuk sepatu Meidina)

Leny : Hijau toska.

Dwinar : Bukan, gak kayak gitu.

Leny : Oh iya, kayak lumut di dalam laut. (eh, emang di laut ada lumut?, pikirnya)

Garnis : He-eh, ya. (Garnis sambil tertawa terbahak-bahak, apanya yang lucu?)

Dwinar : Kayak tahi kuda tahu.

Leny : Gak ah, itu mah mirip sama warna kerudung Wina. (Rosi, Dwinar, dan Garnis tertawa)

(Kami diam sejenak, mencari jawaban yang tepat.)

Leny : Oh ya, mirip cingcau! (celetuknya)

Garnis, Dwinar, dan Rosi : OH, IYA! (Ditutup dengan tertawa berbarengan.)

ANALISIS

Percakapan yang dibangun oleh Rosi memancing berbagai pendapat yang secara tidak langsung menunjukkan pribadi setiap orang yang terlibat dalam percakapan. Rosi selalu memulai percakapan dengan melontarkan pertanyaan yang sepertinya tidak penting, tapi membuat topik yang dibicarakan menjadi menarik. Seperti menurut Keraf, sebuah gaya yang menarik dapat diukur melalui beberapa komponen berikut: variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup (vitalitas), dan penuh daya khayal.

Jika merunut dari antartokoh yang terlibat dalam percakapan, teori yang penuh daya khayal sekaligus menunjukkan gaya bahasa kiasan bagian persamaan (simile) terdapat pada kata-kata Dwinar dan Leny. Dapat dilihat kutipannya sebagai berikut.

Leny : Oh iya, kayak lumut di dalam laut. (eh, emang di laut ada lumut?, pikirnya) …

Dwinar : Kayak tahi kuda tahu. …

Leny : Oh ya, mirip cingcau!

Dapat dilihat pada percakapan di atas, keempat tokoh tersebut mencoba mencari perbandingan antara warna sepatu Meidina dengan lumut di dalam laut, tahi kuda, ataupun cingcau. Pada perkataan Leny terhadap Wina, Gak ah, itu mah mirip sama warna kerudung Wina, yang berarti mengejek. Maka, Leny tidak mematuhi aturan gaya bahasa bagian sopan-santun (Gorys Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa). Namun percakapan tersebut telah membuat variasi dan humor yang sehat karena membuat percakapan menjadi lebih menarik. Berikut kutipannya.

Dwinar : Kayak tahi kuda tahu.

Leny : Gak ah, itu mah mirip sama warna kerudung Wina. (Rosi, Dwinar, dan Garnis tertawa)

Ada tokoh yang perkataannya kadang-kadang membela diri karena menghindar dari kesalahannya dalam mengemukakan pendapat, dan yang merasa dirinya benar. Terlihat dari beberapa perkataannya berikut ini.

Dwinar : Iih, nyambung kali. Baju Wina ‘kan ada hijau-hijaunya dikit. Lagian, sekarang ‘kan lagi trennya, hijau sama pink. (kalimat pembelaan)

Dwinar : Eh, tahu gak ini tuh biar gak bau jempol. (merasa paling tahu)

Leny : Lho, emang kaki yang bau cuma jempol doank ya?

Dwinar : ‘Kan di mana-mana juga yang paling banyak memproduksi ibu, haha… (kalimat pembelaan)

Leny : Oh iya, kayak lumut di dalam laut. (eh, emang di laut ada lumut?, pikirnya) (merasa benar)

Dwinar : Kayak tahi kuda tahu. (merasa benar)

Pada kalimat, Iih, nyambung kali. Baju Wina ‘kan ada hijau-hijaunya dikit. Lagian, sekarang ‘kan lagi trennya, hijau sama pink. jelas sekali tokoh itu mencari alasan untuk menutupi kesengajaan menggunakan pakaian yang warnanya “tubrukan” tersebut. Lalu pembelaan juga ada pada kalimat, ‘Kan di mana-mana juga yang paling banyak memproduksi ibu, haha… padahal itu hanya spekulasi yang berupa candaan yang tokoh tersebut buat sendiri—di samping memang hanya seorang ibu yang bisa memproduksi. Faktanya, harus diadakan penelitian terlebih dahulu mengenai benar tidaknya pada ibu jari kaki terdapat kelenjar keringat terbanyak.

Lalu pernyataan yang merasa diri tokoh tersebut benar atau sok tahu, yaitu pada kalimat Eh, tahu gak ini tuh biar gak bau jempol.; Oh iya, kayak lumut di dalam laut. (eh, emang di laut ada lumut?, pikirnya); Kayak tahi kuda tahu. Jika dilihat dari faktanya, harus diadakan penelitian terlebih dahulu mengenai fakta ada tidaknya lumut di dalam laut. Yang terparah adalah kalimat Kayak tahi kuda tahu. Sudah salah, tokoh tersebut meyakinkan dengan kata tahu pula. Kata tahu di sini menunjukkan penekanan bahwa tokoh yang lain harus yakin bahwa hal itu benar. Perkataannya tersebut sama saja dengan menjatuhkan harga dirinya sendiri di hadapan tokoh-tokoh yang lain.

(kupersembahkan untuk Pa Hamid 8). halow bapa….!)

Give and No Take

February 11th, 2008

"… dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh yang lebih banyak…"

(Al Mudatsir:6)

Berbicara masalah memberi, saya jadi inget temen saya. Dia mati-matian mengejar seseorang. Dia pikir, seseorang itu tipe dia banget alias soulmate-nya yang hilang yang harus disatukan kembali dengan jiwanya. Kalau tidak salah, sudah bertahun-tahun dia mengharapkan adanya keajaiban agar si seseorang itu membuka sedikit hatinya, tapi… kasihan, sampai sekarang seseorang itu takpernah mau meliriknya sedikit pun. Tak pernah mau menggubrisnya. Sampai akhirnya, si seseorang itu pernah bercerita kalau dia mengagumi sosok lain, yang secara tidak langsung menciutkan hati si temen saya itu.

Si temen saya itu patah hati. Harapannya selama bertahun-tahun kandas dengan pernyataan si seseorang itu.

Tapi, meskipun tahu tidak ada harapan, si temen saya masih belum mau menyerah. Yah, yang ada, dia malah semakin menderita. Namun entah keajaiban darimana, yang pasti suatu ketika tiba-tiba dia berbicara seperti ini, "Ternyata selama ini aku salah. Mencintai atau pun menyayangi seseorang itu gak harus mengejarnya sampai dapet. Aku pengen tulus ngasih rasa sayang ini. Biarlah dia bahagia sama orang laen, daripada sama aku dia menderita. Yang penting sekarang, aku pengen melakukan yang terbaek aja buat dia. Toh kalo aku ngarepin balasan mah da gak akan ada ujungnya. Malah bikin derita berkepanjangan. Sejak aku berusaha ikhlas, aku jadi lebih tenang…"

Saya pernah mendengar ceramah Aa Gym, jika kita menyayangi seseorang, jangan pernah mengejarnya alias tidak usah mati-matian pedekate sama dia, tapi sama Dia pemiliknya. Sebab, Dia lah yang memegang hati seseorang, yang bisa mengubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Intinya sih, IKHLAS. Tapi ya itu dia, untuk menghadirkan si ikhlas ini susahnya minta ampun. Butuh perjuangan yang tidak mudah. Kadang harus nangis darah dulu (heheh gak segitunya juga sih) untuk bisa meraihnya.

Keluarga apa?

February 11th, 2008

Sebenarnya makna keluarga itu apa sih? Saya bener-bener pengen tau. Soalnya setau saya, dan ini pun menurut pengalaman, kalau keluarga itu sangat membantu dalam pengembangan kepribadian kita, salah satunya. Dari keluarga, kita bisa jadi orang hebat. Dari keluarga juga kita bisa jadi orang terpayah di dunia. Penting banget sosialisasi dalam keluarga, mm maksud saya komunikasi, kalau sosialisasi kesannya ada di lingkungan besar. Tidak ada komunikasi berarti kita payah dalam menjalin hubungan dengan keluarga. Tapi bagaimana kalau keluarganya sendiri tidak mendukung kita untuk bisa berkomunikasi dengan mereka? Apa itu berarti kesalahan ada pada diri kita?

Terkadang saya bingung sendiri, keluarga macam apa kalau berkomunikasi selalu menggunakan "otot"??? apa komunikasi dapat berjalan dengan baik?

Hmm…. Yah, itulah hanya sekelumit mengenai trouble keluarga.

Berbagi Pengalaman: Jepang dengan Indonesia

February 11th, 2008

31 Januari 2008

Tadi siang saya bersama dua euceu: miwra dan owchui, duduk di depan dekanat nungguin si nenk Anis datang. Kan rencananya mau ketemu Pa Wahya bareng, ehm nge-date gitu deeh, hehehe 8D. Tau-tau si Mang Ndan (begitu kami menyebutnya, dia mahasiswa Sastra Jepang) duduk di samping saya. Katanya ikut nimbrung. "Ngiringan ah, teu gaduh rencang." Sambil dengerin mp3.

Tiba-tiba aja kita ngomongin soal negara Jepang. Rasa penasaran saya dan si euceu Miwra begitu besar hingga kami seperti wartawan kesurupan. Banyak nanya gitu sama si Mang Ndan. Kebetulan dia baru balik dari sana dan lokasi dia tinggal, yaitu di kota Nagoya (di mana tuh?).

Wah, Jepang tuh pantas disebut sebagai Negara Paling Disiplin. Sempurna, katanya. Kalau dibandingin sama Indonesia sih… ga usah dibahas juga tau. Katanya, di setiap jalan di Jepang pasti ada kameranya. Jadi, ga ada kesempatan orang-orang buat melakukan pelanggaran. Sekecil apa pun pelanggaran itu pasti ketahuan (weisss, canggih!). Semua serba rapi, serba teratur, serba bersih, dan tidak banyak polusi seperti di Indonesia. Jarang ada polusi suara, seperti suara klakson motor atau mobil pun jarang! Jarang ada polusi udara, seperti asap kendaraan pun tidak terlihat (komo mun siga haseup DAMRI mah, waaah mana aya!). Kalau polusi air, kami ga membahasnya. Dan, jarang terdengar kata macet di sana! Karena orang-orang Jepang tuh paling hobi jalan kaki daripada naik kendaraan. Beda ya sama kita? Mereka yang bikin kendaraan, kita mah pagaya-gaya make kendaraan buatan mereka. Hehehe dasar kita, kita… Oh ya, katanya, Jepang adalah negara yang paling peduli sama lingkungan. Makanya, di pinggir-pinggir jalannya banyak pepohonan. Banyak juga taman hutan kecil (tahucil) di tengah kotanya.

Truss, soal kedisiplinan waktu di sana. Mereka tuh sangat menghargai waktu. Telat 1 menit pun mereka malu, apalagi kalau telat bermenit-menit bahkan berjam-jam seperti kebiasaan orang Indonesia yang suka telat ya—termasuk saya, sakapeung 8P. Rasanya malu banget kita yang suka telat kalau janjian sama mereka ya? Ada satu pengalaman, waktu itu si Mang Ndan lagi nungguin di Subway. Di papan tuh tertulis kedatangan kereta api pukul 14:02. Tepat jam segitu kereta pun tiba, tanpa telat semenitpun. Segitu disiplinnya mereka. Oh ya, di sana ketepatan detik, menit, dan jam pun disamakan. Bayangkan, masyarakat dalam satu negara ga ada yang beda satu detik, menit, dan jam pun!

Ada peristiwa lain berhubungan dengan harakiri. Di sebuah perusahaan ada tragedi seorang karyawan bunuh diri. Sebabnya, yaitu malu karena ketahuan korupsi. Emang dasarnya mereka mah pemalu, katanya. Malu kalau aibnya sampe ketahuan khalayak. Jadi, daripada menanggung malu kaya gitu lebih baik mati cenah (emang mati bisa menyelesaikan masalah??). Waaaah, coba bayangkan seandainya harakiri terjadi di Indonesia. Berapa banyak orang yang bakal dikabarin bunuh diri? Ck…ck…tragiss!

Ada hal lain yang bikin saya terbahak-bahak waktu denger soal penayangan film bioskop antara di sana dengan di Indonesia. Film dari luar, misal dari Amerika, mereka selalu kebagian urutan terakhir dalam penayangan film buat di bioskop. Berbeda halnya di Indonesia, Indonesia selalu menjadi negara paling pertama dalam penayangan film tersebut. Hebat kan? Kenapa coba? Kata si Mang Ndan sih, soalnya Indonesia itu paling banyak melakukan pembajakan apa pun! Jadi, daripada pihak yang terkait nantinya dirugikan, lebih baik ya naruh Indonesia diurutan pertama, hehehe… aduh, aduh… bisa oge Indonesia di urutan ka hiji.

Tapi… karena terlalu sempurna itu lah, orang Jepang sendiri bosan katanya. Setiap saat selalu diatur oleh berbagai peraturan. So, mereka paling senang kalau datang ke Indonesia. Katanya, di negara kita ini mereka bisa bersantai sejenak, tanpa pusing-pusing harus mikirin tepat waktu, nyari tempat sampah (maksudnya bebas, di mana pun bisa dijadikan tempat sampah, waduuuh), etc. Eit, jangan salah loh, malah, kadang kecacatan itu sebenarnya bisa bikin hidup ini lebih hidup, bermakna, bervariasi, dan ga membosankan. Tapi, itu juga bergantung kita menyikapi kecacatan tersebut sih 8P.

Sebenarnya, sumber daya alam Indonesia pun ga kalah kayanya sama mereka da. Hanya SDM dan cara pengelolaannya aja yang beda. Indonesia lebih kaya loh dari mereka, Mereka aja sampe mengimpor kayu-kayu dari Indonesia. Sayangnya, kita ga bisa jaga hutan kita tetap hijau. Hmm… mari kita merenung beberapa jenak.

Sempat terjadi perdebatan yang sangat kecil antara saya dan si Mang Ndan (saking kecilnya sampe ga terlihat seperti berdebat, kumaha?). Waktu ngomongin soal "Kok Indonesia ga bisa kaya Jepang?" Pendapat si Mang Ndan, itu karena mental kita sebagai orang yang pernah terjajah, sedangkan Jepang bermental penjajah. Jelas berbeda, mental terjajah biasanya selalu nge-"monggo-in" dan nurut apa kata dunia eh orang alias "gemana baeknya aden ajah". Sedangkan mental penjajah itu berpikiran ingin terus maju, ya istilahnya, selalu ingin jadi yang terdepan. Gitu katanya. Kata saya, jadi wajar donk Indonesia telat banget kaya sekarang wong dijajahnya aja selama 350 tahun oleh Belanda ditambah 3 tahun oleh Jepang? Trus kata si Mang Ndan lagi, itu bukan sebuah alasan… Ada yang bisa ngasih komentar lain?

Sebenarnya banyak dari kita yang hidupnya disiplin alias taat pada norma yang berlaku, tapi ya itu dia, lingkungannya euy yang ga mendukung. Hm… Jadi, bisa ga ya kita jadi masyarakat disiplin? Harus mulai dari diri sendiri dulu atau dari lingkup yang lebih besar dulu, seperti dari pemerintahnya dulu ya?

Tambahan:

Malam di Jepang lebih lama daripada siangnya kalau musim dingin. Berbeda halnya kalau musim panas, kebalikannya, siang lebih lama daripada malamnya. Mending mana? Ya, mending di Indonesia ya? Hehehe…